Agenda
   Gapura
   Jejaring
   Perspektif
   Kolom :
   Interaktif :
  Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 1

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 83
Online Bulan ini : 2257
Total Hits : 243711
  Galeri Foto


Bersepeda Rame-rame
Ketua Umum Kadin Jawa Tengah, Solichedi bersepeda bersama iLik sAs, salah satu relawan JRU. Ngonthel bareng Semarang Onthel Club (SOC) dlm acara pembukaan Pestipal Kampung Wedangan di BP Dikjur, Jl. Brotojoyo Semarang.
  Bikin Website ?
Tersedia paket gampang, murah dan cepat! Hubungi :
Arif 024 - 33136913


  RSS Feed
RSS Feed - http://feedity.com/rss.aspx/rumahusaha-com/UldXW1NW
  Links

Prie GS, Sang Penggoda Indonesia

Auly Kastari - Sang Perupa

WiraMuda 

qrcode

  Live Traffic
Berita / Kolom Prie GS
Mengenang Kho Ping Hoo
Oleh rumahusaha
Rabu, 17-Februari-2010, 01:16:06 404 klik Send this story to a friend Printable Version
Jadi sebelum Imlek dirayakan secara terbuka, Kho Ping Hoo telah jauh-jauh hari merayakannya. Ia telah lama dekat di hati. Bagi saya nonton film kung fu, sudah sama dekatnya dengan nonton ketoprak humor. Jika ada sesuatu yang asing dan berjarak, pasti bukan karena soal warna, liong, barong sai, lampion dan kelenteng, tapi lebih karena kelakuan kita sebagai manusia. Seribu satu jenis kebudayaan boleh lahir dan dirayakan. Sepanjag watak kita baik-baik saja, semua jenis perayaan itu akan mendatangkan kegembiraan bersama.
SAYA ingin mengenang Kho Ping Hoo bukan karena hafal hari kelahiran dan kematiannya. Saya mengenang tokoh ini karena melihat perayaan Imlek yang gegap gempita. Perayaan yang menjadi bukti betapa tertekan hari besar itu selama ini. Sebagai upacara, di Indonesia ia pernah menjadi anak tiri.

Ketika Imlek belum merdeka, Kho Ping Hoo hadir menghibur kita. Begitu tenggelam dalam hasutan ceritanya, kita segera melupakan tentang persoalan suku, ras, agama dan antara golongan yang menegangkan itu.

Dengan caranya sendiri Kho Ping Hoo mengajak kita untuk membuktikan bahwa semua manusia bisa menjadi saudara. Ia tak pernah kedapatan membuang-buang waktu untuk berdebat soal sebutan yang tepat tentang Cina, Tionghoa, Tiongkok.... Apapun sebutannya manusia ternyata sama saja. Setiap bangsa selalu bisa melahirkan pendekar dan para patriot. Tapi setiap bangsa juga selalu memiliki maling dan koruptor.

Maka membaca Kho Ping Hoo, tak penting benar apakah saya ini seorang Jawa, Cina atau Batak. Bagi saya popularitas Huang Ho itu sudah seperti Banjir Kanal bagi Semarang, Ciliwung bagi Jakarta dan Musi di Sumatera. Bangsa Han itu malah seperti keluarga dekat saja karena ephosnya, karena di sana banyak satria gagah, kaum teraniaya yang gigih melawan penjajah. Tapi lepas dari itu semua, bangsa itulah yang melahirkan manusia seperti Suma Han yang bagi saya adalah teman masa kecil, kakak, idola dan hero. Saya mengikuti hidupnya sejak masih kanak-kanak hingga remaja dan harus buntung kakinya, sampai akhirnya dia mendapat gelar yang bahkan Mike Tyson pun kecil di hadapannya: Pendekar Super Sakti.

Saya membayangkan Suma Kian Bu seperti membayangkan kakek buyut sendiri. Istana Pulau Es itu seperti tempat main waktu kecil, tempat saya bertemu dengan para engkong, sute, subo, suheng dan para susiok. Para manusia yang karena kesaktiannya, karena keluhuran budinya, naik derajat menjadi manusia setengah dewa.

Tapi selain para idola, saya juga dipertemukan dengan para jai hwa cat, para figur mata keranjang, pendekar pemetik bunga. Sebuah gelar yang di mata saya menjadi begitu mengerikan. Karena inilah manusia berilmu tinggi tapi bejat kelakuannya. Mereka adalah tukang perkosa, tukang selingkuh dan tukang gaet istri orang. Mereka adalah orang jahat tapi sangat berkuasa. Atau mereka adalah orang biasa yang sangat ingin berkuasa hanya untuk bisa melampiaskan nafsu jahatnya. Betapa dekat kenyataan semacam itu di sekitar saya.

Kho Ping Hoo juga mengajak bertemu para pengecut dan kaum bo ceng li, para muka badak dan kebal malu. Maka jadi terbayanglah tentang oknum pejabat yang sudah ngerti rakyatnya susah tapi masih tega korupsi. Sudah ngerti jadi tersangka masih tampil percaya diri dan sering pula talk show di televisi.

Kho Ping Hoo membawa saya menyatukan batas-batas geografi dan status. Bahwa tinggal di Hoasan Pay pun bisa serasa di rumah sendiri jika di sana ada ketenteraman, keadilan, keteladanan. Saya diperkenalkan dengan para hwesio dan pendeta yang butiran tasbihnya segede kelapa. Tasbih yang ternyata bukan menjadi alat berdoa tapi malah bisa menjadi alat pembunuh. O, ada juga hwesio yang menggunduli kepala bukan karena dorongan spiritual melainkan karena ambisi pribadi semata. Pemandangan yang juga dekat dengan saya karena sekarang tak sulit mencari tokoh agama berantem dan saling memaki, malah ada pula yang diduga korupsi.

Jadi sebelum Imlek dirayakan secara terbuka, Kho Ping Hoo telah jauh-jauh hari merayakannya. Ia telah lama dekat di hati. Bagi saya nonton film kung fu, sudah sama dekatnya dengan nonton ketoprak humor. Jika ada sesuatu yang asing dan berjarak, pasti bukan karena soal warna, liong, barong sai, lampion dan kelenteng, tapi lebih karena kelakuan kita sebagai manusia. Seribu satu jenis kebudayaan boleh lahir dan dirayakan. Sepanjag watak kita baik-baik saja, semua jenis perayaan itu akan mendatangkan kegembiraan bersama. (03)

Prie GS
Budayawan, tinggal di Semarang
 
  Berita Kolom Prie GS Lainnya
.Bahasa dan Kelakuan Kita
.Bekerja = Menyakitkan?
.Gila Bola Amatiran
.Memotong Rumput
.Telapak Kaki
.Perjuangan untuk Bergembira
."Jangan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan"
.Anak-anak dan Idolanya
.Menunda Kemarahan
.Orang Kalah
Mengenal Jaringan RumahUSAHA

Wirausaha saat ini adalah sebuah fenomena dahsyat yang tengah dan akan selamanya menjadi perhatian utama masyarakat. Ketahanan sektor wirausaha yang kebanyakan merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah pada situasi ekonomi yang paling sulit sekalipun menjadikan sektor usaha ini sebagai sektor yang tahan uji. Pemerintah, perbankan, hingga berbagai perusahaan besar memberikan perhatian yang seringkali dirupakan dalam bentuk bantuan permodalan lunak, bimbingan manajemen, hingga ke fasilitas akses pasar yang tak jarang menghantarkan UMKM pada ranah yang bukan lagi jago kandang di negeri sendiri.
lanjut »
Temu Wiramuda : Momentum Aktual Wiramuda Kita
23 Desember 2008 bisa jadi merupakan hari istimewa bagi teman-teman Wiramuda. Di hari itu, mereka sedari pagi sudah harus bersiap diri, berdandan, dan mengenakan baju lurik untuk tampil sebaik mungkin sebagai Wiramuda yang akan diperkenalkan kepada sekitar 125 tetamu yang hadir di pukul 09.00 nanti. lanjut »
Wiramuda Goes to Bandung
Carilah ilmu sampai ke negeri China. Itu adalah pepatah kuno yang mengisyaratkan tak ada batasan geografis jika harus berurusan dnegan mencari ilmu. Inilah yang sekarang coba diterobos oleh tiga orang Wiramuda, Serena Marga, Lina Luthfiana, dan Reza Dwi Purwanto. Ketiganya kini sedang menimba ilmu di bidang industri kreatif, langsung di salah satu magnetnya, Bandung.

lanjut »
JRU-Kenshusei Buka Kesempatan Beasiswa Pendidikan Magang Jepang
Kesempatan untuk menjadi salah satu peserta Magang Jepang kini dibuka lagi. Seleksi calon pemagang akan diselenggarakan di Semarang pada bulan November mendatang. JRU-Kenshusei yang bekerjasama dengan Program CC Magang Jepang kembali membuka kesempatan untuk menjadi bagian yang dididik menjadi pemagang Jepang sekaligus kesempatan untuk mendapatkan bantuan pembiayaan untuk pemberangkatan magang ke Jepang.

lanjut »
Bisnis Yang Berawal Dari Hobi
Jangan sekalipun remehkan hobi. Terbukti banyak para entrepereneur sukses berawal dari hobi, dari hobi memasak, membuat kerajinan, menulis, hingga memelihara binatang. Kenapa tidak mengembangkannya menjadi bisnis yang menguntungkan? lanjut »
Komunikasikan Bisnis Anda
Di era kompetisi yang begini hebat ini seorang entrepreneur dituntut untuk terus mau bergerak dan berubah sesuai dengan perkembangan yang ada. Begitu pun ketika kita bertekad menjadi wirausahawan/wati dengan spesifikasi barang atau jasa tertentu, sudah pasti kita bertekad untuk menempatkan diri kita, dengan totalitasnya, termasuk kelebihan dan kekurangan kita, sebagai sebuah produk yang harus bisa dijual. lanjut »
JRU Rintis Kelompok Berkarya Seni Visual
12 tahun menggeluti dunia desain komunikasi visual menjadikan JRU tumbuh dewasa memahami bagaimana bermain di dunia yang penuh kreativitas tersebut. Inilah yang akhirnya menempatkan JRU pada impian untuk menjadi pemain terkemuka dalam industri kreatif ke depan. Hari-hari belakangan, JRU mulai menapakkan langkah menjadi pemain industri kreatif dengan memasuki ranah seni visual. Inilah langkah-langkah kecil untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain terkemuka dalam industri kreatif. lanjut »
BUKA BERSAMA & DISKUSI JRU-WIRAMUDA
Fokus pada Ketuntasan Belajar melalui Kreativitas dan Kepercayaan Diri

Tahun ini merupakan Ramadhan kedua bagi Wiramuda. Pada tahun kedua ini, fase memasuki tahap tinggal landas berwirausaha sudah harus menjadi pemikiran mereka. Proses pembelajaran mentalitas dan kompetensi di dunia kreatif bagi mereka sudah selayaknya diimplementasikan ke dalam skema bisnis riil yang menjadi ladang pembuktian proses pembelajaran mereka.

lanjut »