 |
| Who's Online ? |
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3
Tidak ada Anggota Online.
Online Hari ini : 84
Online Bulan ini : 2259
Total Hits : 243694 |
| Galeri Foto |
 Bob Sadino Ria Adijoyo, relawan Jaringan RumahUSAHA berpose bersama Pengusaha Bob Sadino di Pestipal Kampung Wedangan |
| Bikin Website ? | Tersedia paket gampang, murah dan cepat! Hubungi :
Arif 024 - 33136913
 |
|
|
 |
 |
|
| Berita /
Jejaring |
|
Wedangan Sore bersama Kawan Penerbitan & Distribusi Buku Jogjakarta Semua Orang Bisa Menjadi Penerbit! | | Oleh rumahusaha |
| Sabtu, 14-Nopember-2009, 15:38:16 |
746 klik |
 |
 |
|
|
Menjadi penerbit buku ternyata bukan perkara yang terlampau rumit. Melalui keberadaan perusahaan distribusi buku, sebuah penerbit yang hanya bermodalkan komputer dan seorang editor sudah bisa menjajakan buku terbitannya hingga ke seluruh Indonesia. Inilah inspirasi apik yang diharapkan bisa menggerakkan potensi kreatif di Semarang, terutama yang berkaitan dengan dunia perbukuan.
|
|
|
Sebagai sebuah kota, Semarang sesungguhnya merupakan sebuah tempat potensial yang menyimpan banyak kekayaan intelektual yang belum tergarap dengan baik. Hal ini diyakini oleh Hariyadi, pemilik distributor buku Solusi Distribusi yang bermarkas di Jogjakarta. Dalam sebuah kesempatan wedangan sore bersama dengan kerabat JRU dan beberapa sahabat seperjuangan, potensi tersebut diyakini bisa menjadi sebuah ledakan hebat yang bukan tidak mungkin akan menjadi kompatriot Solo dan Jogjakarta dalam membangun pusat kreativitas baru selain Bandung dan Jakarta.
Salah satunya adalah melalui industri perbukuan. Industri yang sepintas remeh ini ternyata memiliki potensi yang luar biasa. Hariyadi, dengan pengalaman panjangnya di industri perbukuan, menceritakan jika industri perbukuan tak ubahnya industri produk konsumsi yang segalanya bisa dijual. Kompetisi yang ada saat ini selalu menyisakan ceruk pasar yang bila dioptimalkan potensinya bukan mustahil bisa mencetak orang kaya baru. Hariyadi yang datang bersama dengan beberapa kawannya yang menerbitkan buku menceritakan bagaimana seorang mantan karyawan Solusi Distribusi, perusahaan yang dimilikinya, bisa menjadi perempuan dengan penghasilan minimal Rp 50 juta per bulannya hanya dengan menerbitkan buku. Pun, perempuan bernama Latifah itu bukanlah intelektualis, dia hanya perempuan biasa yang hanya memahami sedikit dunia perbukuan di awal karier kreatifnya di industri perbukuan. Tapi, jangan tanya siapa Latifah hari ini, pertanyaan apapun tentang dunia perbukuan bisa dijawabnya dengan tangkas karena bekal pengalamannya.
Hariyadi kemudian menceritakan jika dia bisa mencetak Latifah menjadi pribadi semacam itu lewat sebuah gerakan bernama “self publishing”. Ringkasnya, “self publishing” adalah sebuah kerja kreatif produksi buku yang tidak memerlukan infrastruktur korporasi layaknya perusahaan penerbitan klasik. Pekerjaan semacam penulisan dan penyuntingan sesungguhnya adalah sebuah pekerjaan mandiri yang bisa dilakukan siapapun hanya dengan bekal seperangkat komputer. Ketika urusan cetak-mencetak, ini adalah wilayah kompetensi para percetakan yang sudah menjamur di mana-mana. Buku yang sudah jadi pun akan bisa dengan mudah dijumpai di toko buku manapun ketika kita mempercayakan itu semua kepada perusahaan distribusi buku. Pendeknya, menjadi penerbit itu sebenarnya mudah karena urusan penerbit sesungguhnya adalah hanya berkaitan dengan urusan kreatif semata. Bahkan, di kantong kreativitas semacam Jogjakarta, urusan kreatif ini bisa menjadi semakin mudah lewat keberadaan penulis lepas dan jasa penyuntingan yang dengan mudah dan ekonomisnya bisa didapatkan.
Inilah yang kemudian menjadikan pria yang pernah berkarier cukup lama di konglomerasi perbukuan nasional ini terinspirasi membuat sebuah kantong kreatif yang menjelma menjadi penerbitan-penerbitan berskala mikro-kecil yang kemudian produknya didistribusikan perusahaan miliknya ke jaringan toko buku nasional seperti Gramedia, Gunung Agung, dan Togamas. Prospek industri ini ke depannya masih cukup baik, mengingat ambisi besar dari beberapa jaringan toko buku untuk menambah gerainya hingga ratusan jumlahnya. Tentu saja ini membutuhkan pasokan buku yang jumlahnya juga semakin bertambah dengan berkembangnya pasar yang menjadi target bidikan. Minat baca masyarakat yang perlahan mulai meningkat menjadi salah satu faktor strategik lainnya yang membuat industri buku semakin seksi untuk dilirik.
Salah seorang kerabat JRU yang lima tahun belakangan ini sudah basah-kuyup dengan industri buku menceritakan jika dirinya bisa mengumpulkan uang puluhan juta rupiah setiap semesternya dari royalti penulisan puluhan bukunya yang sudah diterbitkan oleh penerbit-penerbit berskala nasional. Bertemu dengan komunitas yang dipandegani oleh Hariyadi, dirinya kemudian mencoba untuk menjajal dunia baru bernama “self publishing”. Ternyata, hasilnya luar biasa. Dari sisi bisnis, pendapatannya dari beberapa buku yang dijajakan melalui “self publishing” hasilnya tidak kalah dengan pendapatannya dari royalti buku. “Bahkan, untuk beberapa kasus saya harus jujur peluang ini lebih menjanjikan ketimbang hanya menjadi penulis buku,” tambahnya.
Prinsip terbaik untuk bisa eksis di industri perbukuan sesungguhnya sederhana. Basis industri buku adalah kreativitas, maka kreativitas itulah yang harus dibangun dan menjadi landasan fundamentalnya. Bergabung dengan komunitas kreatif perbukuan bisa menjadi alternatif selanjutnya agar buku bisa menjadi investasi di hari tua yang menjanjikan. Nah, siapa yang tidak tertarik menjadi penerbit buku? Yakinlah, siapa saja kini bisa menjadi penerbit buku!
|
| |
|
|
|
|
 |
 |
Mengenal Jaringan RumahUSAHA
Wirausaha saat ini adalah sebuah fenomena dahsyat yang tengah dan akan selamanya menjadi perhatian utama masyarakat. Ketahanan sektor wirausaha yang kebanyakan merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah pada situasi ekonomi yang paling sulit sekalipun menjadikan sektor usaha ini sebagai sektor yang tahan uji. Pemerintah, perbankan, hingga berbagai perusahaan besar memberikan perhatian yang seringkali dirupakan dalam bentuk bantuan permodalan lunak, bimbingan manajemen, hingga ke fasilitas akses pasar yang tak jarang menghantarkan UMKM pada ranah yang bukan lagi jago kandang di negeri sendiri.
lanjut »
|
Temu Wiramuda : Momentum Aktual Wiramuda Kita 23 Desember 2008 bisa jadi merupakan hari istimewa bagi teman-teman Wiramuda. Di hari itu, mereka sedari pagi sudah harus bersiap diri, berdandan, dan mengenakan baju lurik untuk tampil sebaik mungkin sebagai Wiramuda yang akan diperkenalkan kepada sekitar 125 tetamu yang hadir di pukul 09.00 nanti. lanjut » | Wiramuda Goes to Bandung Carilah ilmu sampai ke negeri China. Itu adalah pepatah kuno yang mengisyaratkan tak ada batasan geografis jika harus berurusan dnegan mencari ilmu. Inilah yang sekarang coba diterobos oleh tiga orang Wiramuda, Serena Marga, Lina Luthfiana, dan Reza Dwi Purwanto. Ketiganya kini sedang menimba ilmu di bidang industri kreatif, langsung di salah satu magnetnya, Bandung.
lanjut » | JRU-Kenshusei Buka Kesempatan Beasiswa Pendidikan Magang Jepang Kesempatan untuk menjadi salah satu peserta Magang Jepang kini dibuka lagi. Seleksi calon pemagang akan diselenggarakan di Semarang pada bulan November mendatang. JRU-Kenshusei yang bekerjasama dengan Program CC Magang Jepang kembali membuka kesempatan untuk menjadi bagian yang dididik menjadi pemagang Jepang sekaligus kesempatan untuk mendapatkan bantuan pembiayaan untuk pemberangkatan magang ke Jepang.
lanjut » | Bisnis Yang Berawal Dari Hobi Jangan sekalipun remehkan hobi. Terbukti banyak para entrepereneur sukses berawal dari hobi, dari hobi memasak, membuat kerajinan, menulis, hingga memelihara binatang. Kenapa tidak mengembangkannya menjadi bisnis yang menguntungkan? lanjut » | Komunikasikan Bisnis Anda Di era kompetisi yang begini hebat ini seorang entrepreneur dituntut untuk terus mau bergerak dan berubah sesuai dengan perkembangan yang ada. Begitu pun ketika kita bertekad menjadi wirausahawan/wati dengan spesifikasi barang atau jasa tertentu, sudah pasti kita bertekad untuk menempatkan diri kita, dengan totalitasnya, termasuk kelebihan dan kekurangan kita, sebagai sebuah produk yang harus bisa dijual. lanjut » | JRU Rintis Kelompok Berkarya Seni Visual 12 tahun menggeluti dunia desain komunikasi visual menjadikan JRU tumbuh dewasa memahami bagaimana bermain di dunia yang penuh kreativitas tersebut. Inilah yang akhirnya menempatkan JRU pada impian untuk menjadi pemain terkemuka dalam industri kreatif ke depan. Hari-hari belakangan, JRU mulai menapakkan langkah menjadi pemain industri kreatif dengan memasuki ranah seni visual. Inilah langkah-langkah kecil untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain terkemuka dalam industri kreatif. lanjut » | BUKA BERSAMA & DISKUSI JRU-WIRAMUDA Fokus pada Ketuntasan Belajar melalui Kreativitas dan Kepercayaan Diri Tahun ini merupakan Ramadhan kedua bagi Wiramuda. Pada tahun kedua ini, fase memasuki tahap tinggal landas berwirausaha sudah harus menjadi pemikiran mereka. Proses pembelajaran mentalitas dan kompetensi di dunia kreatif bagi mereka sudah selayaknya diimplementasikan ke dalam skema bisnis riil yang menjadi ladang pembuktian proses pembelajaran mereka.
lanjut » |
|
|
 |
|
 |